1
Sarjana Unej
Ujian akhir nasional sudah selesai sejak beberapa waktu yang lalu dan pengumuman kelulusan telah aku dapatkan. Aku lihat namaku pada urutan akhir dengan predikat lulus meskipun nilai akhir yang aku dapat kurang begitu memuaskan. Aku dan kawan-kawan adalah angkatan pertama di Sekolah Teknologi Menengah yang kali ini mengikuti mata ujian akhir nasional sebanyak lima mata pelajaran, di mana angkatan sebelumnya Cuma dua mata pelajaran. STM yang bernama “DWIJA BHAKTI” disitulah aku melewati masa-masa pendidikan menengah atas. Semua temanku satu kelas laki-laki, tidak ada perempuan.
Malam itu aku dan Suwandi seperti biasa datang ke rumah Gus Ilyas Muzakki orang yang kami anggap sebagai ustad sekaligus teman. Umurnya beda sepuluh tahun denganku. Dia mempunyai kedudukan di mata masyarakat dusun jembaran karena dia adalah anak seorang kepala desa sekaligus pengusaha muda. Dia mempunyai pabrik roti. Dia bukan saja anak seorang pejabat tapi juga anak seorang kyai, bapaknya menjadi imam di masjid dusun kami dan menjadi khotib keliling di desa Jombok. Itu sebabnya kami memanggilnya “Gus” Sejak dua tahun sebelum kelulusanku dia telah menyelesaikan program sarjana di Universitas Negeri Jember Fakultas Hukum. Kami menganggap dia sebagai Ustad karena dialah yang selama ini memberikan pencerahan terhadap cara berpikir kami mentransfer seluruh wawasan keislaman yang dia dapat selama kuliah terutama tentang pergolakan pemikiran Islam dari dahulu sehingga sekarang. Darinya kami mengenal tokoh-tokoh pejuang Islam seperti Hasan Al-Banna, Sayyid Khutub, Ibnu Taymiyah, Imam Wahab, Yusuf Qordlowi, Taqiyyudin an-nabani dan tokoh-tokoh kontemporer lainnya. Berinteraksi dengan Gus Ilyas menjadikan kehidupan kami mempunyai arti selama ini kami merasa terlahir untuk sengsara, tetapi kesengsaraan itu sudah menyatu dengan kami dan kenikmatan itu hanya dinikmati orang-orang kaya didesa kami. Berinterakasi dengan Gus Yas menjadikan kami berani untuk bermimpi dan bercita-cita.
Dua tahun berkumpul dan berbagi wawasan dunia Islam seakan tidak pernah bosan kami menerima wawasan dari Gus Yas. Awalnya kami membentuk kajian islam remaja masjid, ada tiga puluh remaja yang mengikuti kajian yang lebih banyak membahas masalah aqidah. Bertempat diserambi masjid dengan papan tulis dari tembok dinding yang dicat hitam sebagai media penjelasan. Gus Yas sering memberikan materi dengan bercerita. Kebanyakan ceritanya adalah cerita sejarah yang mengandung hikmah. Sangat pas dengan kegemaranku, sejak SD aku paling senang belajar sejarah. Saking senangnya dengan pelajaran sejarah setiap pagi aku tidak pernah absent mendengar sandiwara radio yang berjudul “TUTUR TINULAR” dan ‘mahkota mayangkara” yang ceritanya berlatar belakang kerajaan Dhoho Kediri, Kerajaan Kertanegara Singosari, dan kerajaan Majapahit dengan tokoh utama Arya Kamandanu maha patih Gajah mada. Mendengar sandiwara radio ini aku pernah bercita-cita ingin menjadi seperti Arya Kamandanu.
Itu sebabnya metode cerita yang disampaikan Gus Yas sangat mudah aku terima. Cerita-cerita kehebatan para sahabat Nabi Muhammad, cerita tentang sahabat Abu Bakar yang bijaksana, Umar bin Khatab yang pemberani, Usman bin Affan yang dermawan dan Ali bin Abi Tholib yang cerdas dan pandai menambah perbendaharaan wawasanku tentang sejarah Islam. Bahkan cerita keberanian Kholid bin Walid yang dijuluki Syaifullah, Sholahuddin Al-Ayyubi yang pemberani dan bijaksana, Muhammad al-fatih pembebas Konstantinopel, dan Panglima Thoriq bin Ziyad pembuka kegelapan di Spanyol, membuat aku selalu rindu untuk mendatangi kajian yang di sampaikan Gus Yas.
Seiring perjalanan waktu satu persatu peserta kajian berguguran laksana daun yang menguning hingga tinggal kami berdua yang masih aktif mengikuti kajiannya. Walaupun tinggal kami berdua aku dan suwandi dia tetap mengadakan kajian Islam, dia tidak kecewa bahkan tetap bersemangat memberikan ilmunya kepada kami. “Gus, setiap ngaji hanya kami berdua, apa Gus Yas tidak kecewa” tanyaku.
“Saya tidak pernah kecewa meskipun dari tigapuluh orang tinggal dua orang, karena saya yakin kalianlah murid terbaik yang saya miliki saat ini. Dan yang paling penting saya telah menyampaikan ilmu saya kepada antum” itu yang pernah dikatakan padanya kepada kami.
“O iya, bagaimana pengumuman kelulusan kalian ?”
“Alhamdulillah lulus Gus!”
“Apa rencana kalian selanjutnya setelah ini?”
Aku dan suwandi saling memandang, karena tidak tahu apa yang harus kami katakan. “Itu yang kami belum tahu Gus, kalau terus sekolah kami bingung biayanya. Kalau kerja…, mungkin kami ke Malaysia.”
Gus yas hanya tersenyum mendengar jawaban kami, “itulah pola pikir yang perlu kalian rubah. Saya melihat hampir 90% remaja dan pemuda di desa ini cara berpikirnya seperti kalian. Lulus sekolah kerja, lulus sekolah kerja, lulus sekolah kerja. Maaf, apa yang kalian dapatkan selama mengikuti kajian denganku?”
“Kalau saya sangat senang Gus, dan ingin seperti orang-orang yang sering kali Gus yas ceritakan.”
“Bagus, baarokallaahufiik! Mereka adalah orang-orang yang membawa perubahan, tapi tahukah kalian bagaimana mereka mengawali cerita hidup mereka?”
Kami hanya menggelengkan kepala, tanda kurangnya pengetahuan kami tentang mereka.
“Sobat mereka mengawali perubahan dunia dengan ilmu, ada yang sejak kecil mereka berada pada asuhan para Tabi’in dan Ulama yang akidahnya lurus. Mereka tidak pernah meninggalkan cerita baik kalau mereka tidak pernah belajar. Dan dunia tidak akan mencatat nama mereka dengan tinta emas kalau mereka adalah orang-orang bodoh. Kalau kalian saat ini mempergunakan waktu hanya untuk kerja mencari uang, maka kalian telah menyia-nyiakan waktu yang paling berharga. Kalian masih muda, harapan masih panjang, waktu kalian masih cukup untuk mencari ilmu. Merubah dunia tidak cukup hanya dengan kerja tapi yang lebih penting dan utama dari pada itu adalah ilmu, porsinya kecil tapi efeknya lua….r biasa.!!!. kalian masih ingat cerita Nabi Sulaiman, ketika beliau di suruh memilih antara Ilmu, harta, dan kerajaan. Apa yang beliau pilih?”
“Ilmu…!” Kami menjawab serempak.
“Nah, apa yang beliau dapatkan pada akhirnya? Nabi Sulaiman bukan hanya mendapatkan ilmu, tetapi harta dan kerajaan juga beliau dapatkan. Bukan hanya kerajaan manusia tetapi kerajaan jin dan hewan juga berada dibawah kekuasaan Nabi Sulaiman. Maaf, sudah ada contoh di dusun kita, bagaimana orang-orang yang matinya meninggalkan harta. Bukan kedamaian yang di akibatkan tetapi permusuhan karena berebut warisan. Saya tidak menyalahkan teman dan saudara kita yang pergi ke Malaysia, karena mereka adalah pahlawan keluarga. Tetapi perjuangan mereka belum selesai, harus ada kelanjutan. Masak semua pemuda di desa ini harus kerja semua, cobalah kalian membuat perubahan!!! Yun, Kakak kamu Ismail itu yang saya tahu dia suka membaca dan senang pada majlis ilmu saya yakin dia akan mendukung kamu. Dan kamu Wandi, bapakmu seorang pedagang saya yakin hartanya cukup untuk biaya sekolahmu.”
“Gus, kuliah itu mahal ya?”
“Mahal itu bagi orang yang tidak mau, bagi orang yang ada kemauan berapapun biayanya akan terasa murah. Allah pasti membantu dan mempermudah bagi hamba-Nya yang mau menuntut ilmu.”
“Bagaimana dengan orang tua kami, apakah mereka setuju kalau kami kuliah?”
“Kalian sudah besar, sudah bisa bekerja, tenaga kalian ada harganya. Jangan mengandalkan biaya dari mereka, yang paling penting dari orang tua kalian adalah ridlonya, karena keridloan Allah ada pada ridlo orang tua. Minta ijin pada mereka kalian dapatkan ridlonya, saya yakin orang tua kalian pasti senang, orangtua mana yang tidak senang melihat anaknya pengen maju. Kalian besok libur?”
“Iya gus”
“Coba kalian lihat pengumuman penerimaan mahasiswa baru di Institut Keislaman Hasyim Asy’ari Tebuireng. Kalian minta, syarat-syaratnya dan rincian biaya perkuliahan!”
“Baik gus”
Kajian pada malam hari itu, lebih banyak pada Tanya jawab seputar masalah yang terjadi pada akhir-akhir ini terutama rencana kami selanjutnya. Sebelum kajian berakhir aku mengajukan pertanyaan, “Gus, bagaimana pendapat agama Islam tentang pacaran dan pandangan Gus Yas tentang pacaran”?
Mendengar pertanyaanku Gus Yas tertawa kecil. “Kamu sekarang pacaran?”
“TidakGus.” Saya bertanya begitu karena akhir-akhir menjelang kelulusan saya sering berjumpa dengan siswi SMA 2 yang menarik hati, anaknya berjilbab besar, wajahnya putih bersih matanya lebar, memancarkan aura yang teduh. Saya merasa sedang jatuh cinta namun hanya sebatas hanya saling memandang. Ketika mata bertemu mata hatiku berdeguk kencang, sering kali aku berhenti ketika berjalan hanya ingin menikmati indahnya menatap mata seorang gadis yang aku sendiri tidak tahu namanya.
“Bagus, sampai sekarang saya tidak tahu apa artinya pacaran mungkin begitu juga para palaku pacaran juga tidak tahu apa arti pacaran. Kalau pacaran yang selama ini di artikan dengan arti ingin mengenal lebih dalam antar lawan jenis, dan bebas melakukan apa saja mulai dari bertemu, duduk berdua di tempat yang sepi, bebas berbuat apa saja bahkan sampai terjadinya perbuatan asusila maka pacaran seperti haram, dan membangun hubungan seperti itu ibarat membuat bangunan di atas Lumpur sangat rentan dengan keretakan dan mudah roboh. Dan yang lebih bahayanya lagi, tiada keberkahan dalam hubungan seperti itu. Para pejabat Negara yang rusak saat ini adalah pejabat yang masa mudanya mempunyai catatan pribadi yang jelek. Pacaran seperti itu hanyalah aktifitas mencari kesenangan pribadi yang di dalamnya Allah sama sekali tidak ridlo, kalau kesenangan di dunia menjadi tujuan maka sampai tua orang itu akan terus mencari lembah-lembah kesenangan. Ingat, pacaran seperti adalah awal hidup yang salah. Salah kita mengawali hidup maka langkah kita selanjutnya akan berbuntut kesalahan dan celakanya kita juga akan berusaha menutupi kesalahan itu bukannya memperbaiki. Pacaran, terus hamil karena kecelakaan solusinya aborsi. Ingin jadi pegawai, karena tidak punya kapabilitas tapi punya uang, suap!. Apa baiknya hidup seperti itu.??! Sudahlah, kalian tidak usah pacaran perbaiki saja diri kalian, janji Allah dalam surat an-nur ayat 26 itu pasti. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…. Insya Allah jika akhlak dan perbuatan kalian baik maka Allah juga akan memberikan pasangan yang baik. Yakinkan dalam diri kalian seindah-indahnya pacaran adalah pacaran setelah menikah.”
“Yaa, kan sudah halal Gus!!!” Aku menjawab sambil tertawa.
“Lho la iya to, kalian milih mana?, setelah menikah jangankan memeluk istri memberikan senyum kita saja untuk istri akan dihitung oleh Allah sebagai amal kebajikan, memegang tangannya akan dicatat sepuluh kebaikan dan dihapus sepuluh kejelekan, mencium keningnya dihitung seratus kebaikan, belum lagi yang lebih dari pada itu. Dan apabila kalian memegang tangan seorang wanita yang bukan mahrom Allah siapkan untuk pelaku api neraka jahanam yang panasnya akan membakar sampai ke relung hati yang paling dalam, hiii… na’udzubillahimindzalik. Nah ini hanya masalah memilih. Sebagaimana yang saya jelaskan tadi salah pilih akan berakibat buruk dalam pengaruh kehidupan. Bagaimana Wan, kamu juga sedang jatuh cinta?”
“Tidak juga Gus. Kalau ta’aruf itu bagaimana?” Ganti Suwandi bertanya.
“Beda dengan pacaran, ta’aruf itu mempunyai arti mengenal atau perkenalan. Tetapi ta’aruf disini tidak berdua-duaan, di awali dengan kesungguhan hati yang rindu ingin segera menikah guna menyempurnakan separuh iman kemudian mencari informasi wanita mana yang akan dikenal, selidiki dulu, kecantikannya, keturunan siapa, keluarganya sederhana atau kaya, dan lebih penting dari itu semua agamanya. Kemudian tukar biodata kalau memang cocok baru melangkah pada tahap bertemu. Bertemupun tidak boleh sendiri, harus ada pihak yang mendampingi dari pihak keluarga. Kalau sudah ada kecocokan baru melangkah pada proses khitbah. Wah ini kok sudah pada Tanya masalah nikah, sudah pada pengen nikah.”
“Ya belum gus, tapi cari ilmunya sebelum praktek tidak apa-apa kan?”
“Ya tidak apa-apa. Suwandi dan Yunus, apabila kalian nanti jadi lanjut sekolah, belajarlah berbicara didepan kalayak umum. Latihlah sebisa mungkin berbicara seperti seorang orator. Karena kemampuan dan kepandaian berbicara didepan umum adalah modal penting untuk meraih keberhasilan.”
Mendengar pesan Gus Yas di akhir kajian, aku teringat sosok idola local yang sudah aku baca biografinya ketika masih SMP, dia adalah Presiden pertama Republik Indonesia. Buku berjudul Soekarno Putra Fajar, setebal hamper limaratus halaman telah aku baca berkali-kali ketika masih SMP. Seorang Presiden yang dikenal dengan kelebihan gaya oratornya yang bisa memukau audien dialah Soekarno. Gaya bahasa dan tutur kata yang jelas, dan pelajaran yang aku dapatkan darinya bahwasanya Soekarno melatih gaya berbicaranya sejak dia sekolah tingkat menengah atas, karena latihan demi latihan yang sering dia lakukan dikost tempat tinggalnya, dia ditegur dan dimarahi oleh penghuni yang lain. Saking senangnya pada sosok bernama Soekarno aku memajang gambarnya dikamarku, ketika dia berpidato pada hari kemerdekaan tahun 1954, gayanya mengacungkan tangan kanan ke atas, mulutnya terbuka.seperti memekikkan kalimat “Merdeka!!!”
Kajian diakhiri dengan doa kafaratul majlis. Suasaana tenang dan sunyi menghiasi dusun Jembaran, tidak ada bising suara motor, karena memang jauh dari jalan raya hanya suara jangkrik yang meramaikan kegelapan malam.
(Bersambung)
Jumat, 18 Maret 2011
Sarjana Unej
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar